• TANGGALAN

    April 2012
    S S R K J S M
    « Des    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Pos-pos Terbaru

  • Kategori

  • HAND MADE

Gaya Belajar


Tidak ada dua individu yang memiliki inteligensi yang sama. Sebagian orang belajar lebih baik dengan suatu cara, sebagian yang lain dengan cara yang lain pula. Moeljadi Pranata (2002) menyebutkan bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang unik. Tidak ada suatu gaya belajar yang lebih baik atau lebih buruk daripada gaya belajar yang lain. Tidak ada individu yang berbakat atau tidak berbakat. Setiap individu secara potensial pasti berbakat—tetapi ia mewujudkan dengan cara yang berbeda-beda.

Gaya belajar menunjuk pada keadaan psikologi yang menentukan bagaimana seseorang menerima informasi, berinteraksi, serta merespon pada lingkungan belajarnya. Gaya belajar memiliki beberapa variabel antara lain faktor persepsi dan pemrosesan informasi, faktor motivasi, dan faktor psikologi.

Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih oleh seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Porter dan Hernachi (2000) menyebutkan dua kategori utama mengenai bagaimana individu belajar, yaitu cara menyerap informasi dengan mudah, dan cara mengatur dan mengolah informasi (dominansi otak). Disimpulkan bahwa gaya belajar adalah kombinasi antara menyerap, kemudian mengatur, serta mengolah informasi.

Sejak awal 1997, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengenali dan mengkategorikan cara manusia belajar, cara memasukkan informasi kedalam otak. Secara garis besar, ada tujuh pendekatan yang umum dikenal dengan kerangka referensi yang berbeda dan dikembangkan juga oleh ahli yang berbeda dengan variasinya masing-masing.

Ketujuh cara belajar tersebut sebagaimana dirangkum oleh Adi W. Gunawan (2006, 140) adalah :

1)        Pendekatan berdasarkan pada pemrosesan informasi, menentukan cara yang berbeda dalam memandang dan memproses informasi yang baru. Pendekatan ini dikembangkan oleh Kagan, Kolb, Honey & umford, gregorc, Butler, McCharty

2)        Pendekatan berdasarkan kepribadian; menentukan tipe karakter yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh myer-Briggs, Lawrence, Keirsey & Bates, Simon & Byram, Singer-Loomis, Grey-Wheelright, Holland, Geering

3)        Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori; menentukan tingkat ketergantungan terhadap indera tertentu. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bandler & Grinder, Messick

4)        Pendekatan berdasarkan pada lingkungan; menentukan respons yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial dan instruksional. Pendekatan ini dikembangkan oleh Witkin, Eison Canfield

5)        Pendekatan berdasarkan pada interaksi social; menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan ini dikembangkan oleh Grasha-Reichman, Perry, Mann, furmann-Jacobs, Merrill

6)        Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan; menentukan bakat yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Gardner, Handy

7)        Pendekatan berdasarkan wilayah otak; menentukan dominasi relatif dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan otak kanan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Sperry, Bogen, Edwards, Herman.

 

Banyaknya pendekatan dalam mengklasifikasikan atau membedakan gaya belajar disebabkan karena setiap pendekatan yang digunakan mengakses aspek yang berbeda secara kognitif. Dari berbagai pendekatan tersebut yang paling popular dan sering digunakan saat ini ada tiga, yaitu (1) pendekatan berdasarkan preferensi sensori: visual, auditori dan kinestetik. Dari hasil penelitian, jumlah siswa yang belajar secara visual sebanyak 27%, auditori 34%, dan 39% kinestetik, (2) profil kecerdasan, dikembangkan oleh Howard Gardner. Menurut Gardner, manusia mempunyai delapan kecerdasan yaitu: linguistik, logika/matematika, interpersonal, intrapersonal, musik, naturalis, spasial dan kinestetik, (3) preferensi kognitif, dikembangkan oleh Dr. Anthony Gregorc. Gregorc membagi kemampuan mental menjadi empat kategori yaitu Konkret-Sekuensial, Abstrak-Sekuensial, Konkret-Acak dan Abstrak Acak. Dari tiga pendekatan tersebut yang dikenal luas di Indonesia adalah pendekatan berdasarkan preferensi sensori (Adi W. Gunawan, 2006:142).

Macam-macam gaya belajar berdasarkan preferensi sensori ini menurut Barbe dan Swassing (dalam Hartanti dan Arhatanto, 2003) terdiri atas tiga modalitas (gaya belajar) yaitu : visual, auditorial, dan kinestetik. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Fleming (2002) bahwa terdapat tiga modalitas belajar, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Namun akhir-akhir ini Fleming memperkenalkan modalitas tambahan, yakni modalitas read/write (baca/tulis).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: