• TANGGALAN

    April 2012
    S S R K J S M
    « Des    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Pos-pos Terbaru

  • Kategori

  • HAND MADE

KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ), KECERDASAN EMOSIONAL (EQ), DAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

Selama seratus tahun dari saat pertama ahli mengemukakan definisi dari intelejensi, telah terjadi pekembangan mengenai teori atau definisi intelejensi yang sangat signifikan. Dimulai dari Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran inteligensi yang hidup antara tahun 1857 – 1911 mengemukakan mengenai teori dan pengukuran  intelejensi yang diwakili oleh teori IQ, sampai dengan teori CQ yang dikemukakan oleh para ahli psikologi modern. Pengembangan teori mengenai intelejensi atau kecerdasan ini sering disebut dengan meta kecerdasan, dimana meta kecerdasan mengandung pengertian mendefinisikan kembali atau merekonstruksi ulang konsep tentang kecerdasan yang telah mapan sebelumnya dalam jangka waktu relatif lama dengan jalan melengkapi atau menambahkan dengan konsep baru. Berkembangnya teori inlejensi menunjukan bahwa para ahli berusaha untuk mengidentifikasi dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia. Menurut Prof. Dr. H. Muhaimin, MA “manusia memiliki berbagai potensi yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin, bahkan pada setiap anggota tubuhnya, dimana  sebagian ahli menyatakan manusia memiliki potensi-potensi dalam bentuk IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), CQ (Creativity Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient)”. Pendidikan sebagai salah satu upaya yang dilaksanakan guna memaksimalkan seluruh potensi dalam diri setiap invidu tentunya memiliki tugas untuk memaksimalkan potensi-potensi tersebut.

 IQ, EQ, dan SQ merupakan salah satu bentuk dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Berdasar pada ilmu neurologi, taufik pasiak mengemukakan mengenai teori meta kecerdasan  yang diwakili oleh IQ, EQ, dan SQ. Selain Taufik Pasiak, terdapat banyak ahli yang mengembangkan berbagai teori mengenai kecerdasan yang dilihat dari berbagai aspek. Dari berbagai definisi inteligensi atau kecerdasan yang dikemukakan oleh banyak  ahli tersebut , Freeman mengklasifikasikan definisi tersebut ke dalam tiga kelompok, yaitu: a) Kelompok yang menekankan pada kemampuan adaptasi, b) Kelompok yang menekankan pada kemampuan belajar, dan c) Kelompok yang menekankan pada kemampuan abstraksi (Fudyartanta, 2004:12). Kelompok yang menekankan pada kemampuan adaptasi mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk mengorganisasi pola-pola tingkah laku seseorang sehingga dapat bertindak lebih efektif dan lebih tepat dalam situasi-situasi baru yang berubah-ubah. Kelompok yang menekankan pada kemampuan belajar mengartikan bahwa semakin inteligen (cerdas) seseorang maka semakin besar ia dapat dididik, semakin luas dan semakin besar kemampuannya untuk belajar. Kelompok yang menekankan pada kemampuan abstraksi menekankan inteligensi pada pemakaian konsep-konsep dan simbol-simbol secara efektif dalam menghadapi situasi-situasi terutama dalam memecahkan masalah-masalah. Dari ketiga macam klasifikasi di atas, inteligensi dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk berperilaku atau bertindak secara tepat dan efektif (Fudyartanta, 2004:14).

Sistem pendidikan di Indonesia yang masih memfokuskan pada aspek kognitif dalam kegiatan belajar peserta didik menggambarkan bahwa kecerdasan intelektual atau IQ memegang peranan penting. Hal ini karena istilah kecerdasan intelektual lebih dikhususkan pada kemampuan kognitif. Behling (1998:189) mendefinisikan kemampuan kognisi yang diartikan sama dengan kecerdasan intelektual, yaitu kemampuan yang didalamnya mencakup belajar dan pemecahan masalah, menggunakan kata-kata dan simbol. Pun demikian dengan kecerdasan emosional, dimana Goleman (2003: 44) meyakini bahwa IQ hanya menyumbang kira-kira 20 % bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sedangkan 80 % sisanya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain, termasuk kecerdasan emosi. Sedangkan kecerdasan spiritual merupakan kekuatan untuk memfasilitasi dialog antara pikiran dan emosi, antara jiwa dan tubuh (Berman ,2001: 98). Dalam kegiatan belajar IQ akan berperan dalam menyerap dan memproses  seluruh informasi mengenai pengetahuan yang didapatkan mahasiswa selama mengikuti kegiatan perkulihan di perguruan tinggi. EQ akan memberikan kekuatan kepada mahasiswa dalam mengorganisasi diri ( self management) selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi,dimana kemampuan ini akan  mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial (goleman, 2003 : 512). Sedangkan SQ berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Agustian, 2001:57).

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR KALO MAU COPY PASTE….😀

PALING GA UCAPAN TERIMA KASIH…. ANE GA NOLAK KOK…HEHEHE😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: