ACTIVE LEARNING : SUATU PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN

ACTIVE LEARNING :  SUATU PENDEKATAN  DALAM  PEMBELAJARAN

 

1.   Pendahuluan

Belajar  pada hakikatnya  merupakan perubahan perilaku. Perubahan yang terjadi merupakan perubahan perilaku yang bersifat permanen yang disebabkan karena interaksi dengan lingkungan. Bower dan Hilgard (1981:11) berpendapat bahwa  “Learning refers to the change in a subject’s behavior or behavior potential to a given situation brought about by the subject’s repeated experiences in that situation,provided that the behavior change cannot be explained on the basic of the subject’s native response tendencies, maturation, or temporary states (such as fatige, drunkenness, drive, and so on)”.  Belajar mengacu pada perubahan perilaku subjek atau potensi perilaku subjek yang merupakan pengalaman berulang-ulang pada situasi tertentu, di mana perubahan tersebut tidak dapat dijelaskan berdasar  kecenderungan respon bawaan subjek kedewasaan, atau kondisi sesaat.  Untuk membuat orang dapat melakukan kegiatan belajar diperlukan pembelajaran.

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara  peserta didik dengan lingkungannya. Gagne dan Briggs (Mukminan,1998:5) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian kejadian (events) yang mempengaruhi pembelajar sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Pembelajaran mencakup semua kejadian bukan hanya dilakukan oleh guru tetapi juga semua kejadian yang diturunkan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Fungsi pembelajaran bukan hanya merupakan fungsi guru tetapi juga sumber-sumber belajar yang lain yang digunakan untuk belajar.   Pembelajaran diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan peserta didik agar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan  menurut UU SISDIKNAS  pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Undang-Undang, 2003).

Pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru harus sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Pembelajaran diselenggarakan berdasarkan rencana yang mengacu pada kurikulum yang sedang diterapkan. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang daharapkan perlu disusun suatu strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran dimaksudkan untuk mempernudah pencapaian tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran yang tepat akan  membantu guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan secara efektif.

Tidak semua strategi pembelajaran dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Strategi tertentu hanya akan dapat digunakan secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Pengertian Active Learning

Yang dimaksud dengan pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa untuk mengalami sendiri, untuk berlatih, untuk berkegiatan sehingga baik dengan daya pikir, emosional dan keterampilannya mereka belajar dan berlatih. Pendidik adalah fasilitator, suasana kelas demokratis, kedudukan pendidik adalah pembimbing dan pemberi arah, peserta didik merupakan obyek sekaligus subyek dan mereka bersama-sama saling mengisi kegiatan, belajar aktif dan kreatif.

               Active learning mengharuskan peserta berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan melibatkan diri dalam beberapa jenis kegiatan di mana secara fisik mereka merupakan bagian dari pembelajaran tersebut. Secara sederhana active learning merupakan learning by doing. Active learning mendasarkan diri pada proses bukan pada hasil.

Active learning (belajar aktif) merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari pembelajaran aktif. Kegiatan pembelajaran mesti dirancang dengan baik agar bermakna bagi peserta didik.  Belajar yang bermakan terjadi bila peserta didik mampu memutuskan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya ( Yulaelawati dalam Pannen, 2001).

Istilah “active learning” mengacu kepada teknik instruksional interaktif yang mengharuskan siswa melakukan pemikiran tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi. Siswa dalam melakukan pembelajaran aktif dapat menggunakan sumber daya di luar pengajar seperti perpustakaan, sites Web, wawancara, atau fokus group, untuk memperoleh informasi.  Mereka dapat menujukkan kemampuannya menganalisis, sintesis, dan mengevaluasi melalui proyek, presentasi, eksperimen, simulasi, internships, praktikum, proyek studi independen, pengajaran kepada sejawat, permainan peran, atau dokumen tertulis.  Siswa yang terlibat dalam pembelajaran aktif seringkali mengorganisasikan pekerjaannya, informasi riset, diskusi dan menjelaskan gagasan, mengamati demo atau fenomena, menyelesaikan masalah dan memformulasikan pertanyaan yang dimilikinya.  Pembelajaran aktif seringkali dikombinasikan dengan pembelajaran kerjasama atau kolaborasi di mana siswa bekerja secara interaktif dalam tim yang memajukan ketergantungan dan pertanggungjawaban individual untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam active learning (Mulyasa,2004:241), setiap materi pembelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Peserta didik mengaitkan materi yang baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Kegiatan belajar mengajar harus dimulai dengan hal-hal yang sudah dikenal dan dipahami oleh peserta didik.

Peserta didik harus aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu guru seharusnya menciptakan strategi yang efektif dan efisien sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Guru harus peka ketika kegiatan belajar mengajar sudh membosankan bagi peserta didik harus segera memodifikasi sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana yang kondusif untuk belajar.

Peran serta pendidik dan peserta didik dalam konteks belajar aktif sangat penting. Pendidik berperan sebagai fasilitator, narasumber dan pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Peserta didik harus berpartisipasi aktif di kelas, bekerja keras dan mampu menghargainya, suasana demokratis, saling menghargai dengan kedudukan yang sama antar teman, serta kemandirian akademis.

3.   Mengapa active learning ?

Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik dituntut untuk lebih dari sekedar mendengarkan. Peserta didik harus membaca, menulis, berdiskusi, atau terlibat dalam pemecahan masalah. Untuk terlibat secara aktif, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan berpikir yang lebih tinggi seperti menganalisis, mensisntesis, dan mengevaluasi. Untuk itu active learning (belajar aktif) harus dipilih sebagai pendekatan agar peserta didik dapat melakukan kegiatan-kegiatan belajar serta memikirkan apa yang  dilakukannya untuk belajar.

Active learning (belajar aktif) merupakan pendekatan  di mana dengannya diharapkan peserta didik akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar  dan potensi yang dimilikinya. Agar belajar aktif dapat terlaksana maka pendidik sebaiknya bekerja secara professional, mengajar  secara sistematis, dan berdasarkan prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien (Pannen, 2001).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa active learning merupakan teknik mengajar yang efektif. Dibandingkan dengan metode mengajar tradisional seperti cramah, peserta didik akan belajar lebih banyak materi, dapat menyimpan informasi lebih lama, dan lebih dapat menyukai kondisi kelas. Active learning memungkinkan peserta didik untuk belajar dalam kelas dengan bantuan pendidik serta peserta didik lainnya.

Lebih lanjut Pannen mengemukakan bahwa untuk dapat bekerja secara professional dan sistematis serta menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik, pendidik diharapkan mempunyai kemampuan :

  1. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
  2. Berkreasi dan mengembangkan ide/gagasan baru
  3. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh peserta didik di sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
  4. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata kuliah/mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
  5. Mengembangkan pengetahuan, keterampiulandan perilaku peserta didik secara bertahap dan utuh
  6. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya
  7. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif

4. Bagaimana Menerapkan Active Learning ?

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan strategi active learning adalah sebagai berikut:

  1. Mulailah pelajaran dengan   menanyakan  ringkasan atau  apa  yang  penting dari pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik  untuk  membagikan  apa  yang mereka tulis atau ketahui kepada teman sekelas.
  2. Mintalah peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apa yang belum mereka pahami atau minta keterangan lebih lanjut mengenai pelajaran yang lalu atau pelajaran yang akan diberikan.
  3. Mintalah peserta didik untuk menerka materi apa yang akan diberikan pada  hari ini.
  4. Meminta peserta didik untuk menuliskan komentar/mengomentari secara lisan  topik atau tema yang akan dibahas.
  5. Gunakanlah teknik permainan “jigsaw” untuk sarana permainan dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok memiliki tugas yang sama, tetapi sedikit informasi, sehingga mereka harus bekerjasama.
  6. Mempersiapkan diskusi dengan menanyakan sesuatu, menyebutkan angka satu untuk yang  setuju atau menunjukkan kertas warna hijau, angka dua atau warna merah untuk yang tidak setuju, dan angka tiga atau warna kuning untuk yang ragu-ragu. Kemudian berdasarkan jawaban itu peserta didik diminta untuk  mengajukan alasan atau argumentasinya.
  7. Kerja kelompok, di mana setiap kelompok melakukan aktivitas tertentu sesuai  dengan topik atau tema yang sedang dibahas.
  8. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik diminta untuk menuliskan ringkasan menurut bahasanya sendiri. Atau diminta untuk membuat suatu tanggapan sesuai dengan kemampuannya entah dengan menggambar, membuat puisi, mengekspresikan dengan gerakan, menyanyi dan atau menari.
  9. Peserta  didik  diminta  untuk  merumuskan  pertanyaan – pertanyaan  sesuai dengan pokok atau tema bahasan, setelah ditukarkan dengan teman yang lain (misalnya sebangku), kemudian diminta untuk mengerjakannya sebagai pekerjaan rumah.
  10. Siswa diminta untuk memberikan contoh dari pengalamannya yang berkaitan dengan tema yang baru saja dibahas.

Sedangkan menurut Lunde dalam InstructionalInnovationCenterstrategi untuk memunculkan active learning adalah :

  1. Menugaskan siswa untuk membuat karya tulis
  2. Memberikan kesempatan pada siswa kurang lebih tiga kali seminggu untuk mencatat komentar, pertanyaan serta jawaban dar pertanyaan mengenai pokok bahasan minggu tersebut
  3. Memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan
  4. Menunggu respon dari siswa
  5. Membagi siswa dalam kelompok kecil untuk saling bertanya dan menjawab seputar pokok bahasan pada hari tersebut
  6. Membiasakan siswa untuk mengaplikasikan konsep dalam memecahkan masalah di dunia nyata
  7. Memberi kesempatan siswa untuk berpendapat
  8. Gunakan teknik bertanya , tunggu respon dari siswa
  9. Sediakan kotak saran dan motivasi siswa untuk menulis komentar setiap kali kegiatan tatap muka
  10. Mengadakan kuis dan latihan  dalam rangka review sebagai alat pembelajaran
  11. Memberikan bahan bacaan ilmiah untuk dibahas
  12. Memberikan siswa pekerjaan rumah yang berupa pemecahan masalah yang sesuai dengan pokok bahasan
  13. Memotivasi siswa untuk membawa dan menyampaikan  berita-berita terbaru yang sesuai dengan pokok bahasan pada hari tersebut ke dalam kelas

Lebih lanjut Lunde mengemukakan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk pembelajaran aktif dalam kelas yaitu, think-pair-share, brainstorming, kerja kelompok kecil, bermain peran, debat siswa, studi kasus, jurnal, concept mapping, kelompok belajar kolaboratif, one-minute-paper, permainan, demonstrasi, student-generated exam question, presentasi dan proyek penelitian, newsletters, dan perburuan harta karun.

Jackson (2006) menyebutkan langkah-langkah untuk melaksanakan pendekatan active learning sebagai berikut :

  1. Menghadirkan konsep umum dalam kelompok belajar
  2. Informasi yang spesifik berkaitan dengan konsep diterima dari kelompok belajar
  3. Aktivitas dalam kelas  didominasi oleh kelompok belajar
  4. Kelompok belajar mengeksplorasi tindakan dan konsekuensi-konsekuensinya selama melakukan kegiatan
  5. Melakukan diskusi kelompok  dan mengambil kesimpulan  dari kegiatan
  6. Mendiskusikan prinsip-prinsip umum
  7. Penerapan dalam kehidupan yang spesifik berdasar prinsip-prinsip umum tersebut
  8. Peserta didik bertindak berdasarkan apa yang telah mereka pelajari

5.   Keuntungan dan  Kelemahan Active Learning

Active learning sebagai pendekatan dalam pembelajaran mempunyai keuntungan  sebagai berikut :

  1. Peserta didik lebih termotivasi

Pendekatan active learning memungkinkan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaiakan materi  ketika peserta didik menimatinya. Dengan melakukan hal yang sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran

  1. Mempunyai lingkungan yang aman

Kelas merupakan tempat di mana  terjadi percobaan-percobaan serta kegagalan-kegagalan. Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal-hal tersebut, tetapi juga memberi semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Resiko harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Pendidik   dapat menyediakan lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas perilaku dalam kelas

  1. Pertisipasi oleh seluruh kelompok belajar

Peserta didik merupakan bagian dari  rencana pelajaran. Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik mencarinya. Beberapa kegiatan mungkin membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan beberapa yang lain mungkin membutuhkan peserta didik untuk menjadi bagiannya. Semua mempunyai tempat dan berkontribusi berdasarkan karakteristik masing-masing.

  1. Setiap orang bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri

Setiap orang bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan mengaplikasikannya  sesuai dengan kondisi mereka.

  1. Kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya

Peraturan dan bahasa boleh diubah menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Dengan membuat perubahan, kita dapat melakukan kegiatan yang relevan degan berbagai  usia kelompok yang bervariasin dengan mengeksplorasi konsep yang sama.

  1. Reseptif meningkat

Dengan menggunakan active learning sebagai pendekatan dalam pembelajaran di mana prinsip-prinsip dan penerapan dari prinsip-prinsip diekspresikan oleh peserta didik, informasi menjadi lebih mudah untuk diterima dan diterapkan

  1. Pendapat induktif distimulasi

Jawaban atas pertanyaan tidak diberikan tetapi dieksplorasi. Pertanyaan dan jawaban muncul dari peserta didik selama kegiatan pembelajarn. Trial and error digunakan untuk berbagai kegiatan.

  1. Partisipan mengungkapkan proses berpikir mereka

Sementara kegiatan diskusi berlangsung, pendidik dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik. Dengan demikian pendidik dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan

Jika peserta didik  melakukan kesalahan yang menyebabkan kegagalan, hentikan kegiatan dan pikirkan alternatif lain dan mulai lagi kegiatan. Dengan demikian peserta didik dapat belajar bahwa kesalahan dapat menjadi sesuatu hal yang menguntungkan dan membimbung kita untuk menjadi lebih baik.

  1. Memberi kesempatan untuk mengambil resiko

Peserta didik merasa bebas untuk berpartisipasi dan belajar melalui keterlibatan mereka karena mereka tahu bahwa kegiatan yang dlakukan merupakan simulasi. Mengambil resiko  merupakan hal yang sulit dalam masyarakat yang mengidolakan pemenang. Dengan memberikan kesempatan  pada siswa untuk berpartisipasi tanpa tekanan untuk menjadi pemenang, kita telah memberi kebebasan untuk mencoba tanpa merasa malu untuk melakukan kesalahan.

Sedangkan kelemahan-kelemahan alam penerapan pendekatan active learning adalah:

  1. Keterbatasan waktu

Waktu yang disediakan untuk pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran yang memakan wktu lama akan terputus menjadi dua atau lebih pertemuan.

  1. Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan

Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.

  1. Ukuran kelas yang besar

Kelas yang memunyai jumlah peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan active learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat memperoleh hasil yang optimal.

  1. Keterbatasan materi, peralatan dan sumberdaya

Keterbatasan materi, peralatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, serta sumberdaya akan menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.

  1. Resiko penerapan active learning

Hambatan terbesar adalah keengganan pendidik untuk mengambil berbagai resiko diantaranya resiko peserta didik tiodak akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau mempelajari konten yang cukup. Pendidik takut untuk dikritik dalam mengajar, merasa kehilangan kendali kelas, serta keterbatasan keterampilan.

6.   Penutup

Active learning mempunyai berbagai keuntungan dan kelemahan. Kelemahan dalam penerapan pendekatan active learning dapat diatasi dengan adnyan perencanaan yang lebih baik.  Hal pertama yang dapat dilakukan adalah bahwa pendidik harus merasa “nyaman” dengan active learning. Penerapan active learning perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif yang dapat memperbaiki dan menambah kemampuan peserta didik. Kebijakan  yang berkaitan dengan kebutuhan penyelenggaraan pembelajaran dengan pendekatan active learning perlu mendapat perhatian. Penggunaan waktu yang relatif banyak, fasilitas, sarana prasaran serta sumberdaya yang memadai perlu menjadi perhatian pihan penyelenggara untuk mencapai active learning.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jackson, Tom. 2006. An Overview of the Active Learning Process As It Relates to Life Skill : Atikel. Diambil dari http/www. Edu.com pada tanggal5 September 2006.

 

Lunde, Joyce Povlacs. 2001. 101 Things You Can Do the First Three Weeks of Class.Nebraska: Teaching andLearningCenter,University ofNebraska-Lincoln.

 

Mukminan. 1998. Teori Pembelajaran. Yogyakarta: P4G IKIPYogyakarta

 

 

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Rosdakarya

 

Pannen, Paulina, dkk. 2001. Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Jakarta : PPAUT Dirjen Dikti Depdiknas

 

 

Undang-undang. 2003. Undang Undang  Republik Indonesia (UU RI) Th 2003 tentang Sistem

      Pendidikan Nasional. Dambil pada tanggal 10 Juli 2006, dari http:/www.depdiknas.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: