• TANGGALAN

    Mei 2011
    S S R K J S M
        Jun »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Pos-pos Terbaru

  • Kategori

  • HAND MADE

POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

A.    POPULASI
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi, populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya.
Populasi memiliki parameter yakni besaran terukur yang yang menunjukkan cirri dari populasi itu. Di antara yang kita kenal besaran-besaran : rata-rata, bentengan, rata-rata simpangan, variansi, simpangan baku sebagai parameter populasi. Parameter suatu populasi tetentu adalah tetap nilainya, bila nilainya itu berubah, maka berubah pula populasinya.
Pengertian lain menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Hadari Nawawi, 1983: 141).
Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini.
a.    Populasi terbatas atau populasi terhingga
Populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnnya 5.000.000 orang guru SMA pada awal tahun 1985, dengan karakteristik: masa kerja 2 tahun, lulusan program strata 1, dan lain-lain.
b.    Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga
Populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasannya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif . Misalnya, guru di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.
Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang, dahulu, sekarang, dan yang akan menjadi guru. Populasi seperti ini disebut juga parameter.

Selain itu, populasi dapat dibedakan ke dalam hal berikut ini:
a.    Populasi teoritis (Theoritical Population)
Sejumlah polpulasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif. Kemudian, agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari guru; berumur 25 sampai dengan 40 tahun, program S1, jalur tesis, dan lain-lain.
b.    Populasi yang tersedia (Accessible Population)
Sejumlah populusasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis.

Di samping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut ini :
a.    Populasi yang bersifat homogen
populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan  jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah, hasilnya sama saja.
b.    Populasi yang bersifat heterogen
Populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.

Meskipun banyak populasi yang anggotanya terbatas jumlahnya seperti jumlah mobil di Jakarta, jumlah mahasiswa Universitas Indonesia di mana keduanya sebenarnya dapat dihitung namun karena hal itu sulit dilakukan maka dianggap tidak terbatas. Metode penarikan/pengambil data dengan jelas mengawali/melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus.
B.    SAMPEL
Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan menggunakan  cara-cara tertentu. Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut ini:
a.    Ukuran Populasi
Dalam hal populasi tak terbatas berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarny bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga populasi terbatas yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50juta murid sekolah dasar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, misalnya.
b.    Masalah Biaya
Besar-kecilnya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih-lebih bila objek itu tersebar di wilayah yang cukup luas.
Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c.    Masalah Waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam, hal ini, lebih tepat.
d.    Percobaan yang Bersifat Merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
e.    Masalah Ketelitian
Masalah ketelitian adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggungjawabkan. Ketelitian, dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan anlisis data. Penelitian terhadap populsai belum tentu ketelitian terselenggara. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
f.    Masalah Ekonomis
Perrtanyaan yang harus selalu diajukan oleh seorang peneliti;apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya, waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi (Sudjana, 1975; 159-161); (Hadari Nawawi, 1923:146-148)

Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya sampel tidaklah ada suatu ketetapan yang mutlak, artinya tidak ada suatu ketentuan berapa persen suatu sampel haurs diambil. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah sampel hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaiknya jika keadaan populasi heteraogen, maka pertimbangan pengambilan sampel harus memperhatikan hal:
1.    Harus diselidiki kategori-kategori heterogeitas,
2.    Besarnya populasi dalam tiap kategori

Karena itu informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusahakan. Satu nasihat yang perlu diingat, bahwa penetapan jumlah sampel yang kelewat banyak selalu lebih baik dari pada kurang (Oversampling is always beter than undersampling). Namun demikian ada cara unutk memperoleh sampel minimal yang harus diselidiki dengan menggunakan rumus :

n ≥ pq

Keterangan :
n      = jumlah sampel
≥      = sama dengan atau lebih besar
P    = proporsi populasi persentase kelompok pertama
q     = proporsi sisa didalam populasi
= derajat koefisien konfidensi pada 99% atau 95%
b    = persentase perkiraan kemungkinan membuat kekeliruan dalam menentukan ukuran sampel.
C.    Penggunaan Populasi dan Sampel
Populasi digunakan bila penelitian ingin mengetahui secara pasti keadaan populasi sesungguhnya yang memerlukan ketelitian dan kecermatan yang tinggi dan sumber informasi bersifat heterogen, di mana sifat dan karakteristik masing-masing sumber sulit dibedakan.
Di bawah ini dikemukakan kapan seorang peneliti menggunakan populasi dalam penelitian, dan kapan pula ia menggunakan sample.
1. Penggunaan sample dalam penelitian, bila :
a)    jumlah populasi yang akan diteliti terlalu banyak
b)    daerah populasi amat luas dan terpencar-pencar sulit dijangkau
c)    waktu penelitian yang tersedia tidak memadai
d)    dana yang tersedia amat terbatas
e)    tenaga peneliti tidak mencukupi
f)    fasilitas yang tersedia tidak memadai
g)    sarana penelitian tidak mencukupi
h)    keamanan untuk melakukan penelitian tidak terjamin, misalnya keadaan medan penelitian ganas.
Mengenai penggunaan sampel dalam penelitian bahwa selain masalah biaya, waktu dan tenaga kondisi-kondisi di bawah ini dapat dijadikan alasan mengapa penelitian perlu menggunakan sampel. Kondisi tersebut adalah :
a)    Bila  individu yang akan diselidiki tak terbatas jumlahnya
b)    Bila penelitian yang dilakukan bersifat destruktif
c)    Bila obyek yang diteliti bersifat homogen
d)    Bila tidak diperlukan ketelitian yang mutlak atau hasil penelitian segera dibutuhkan.
Dari dua pendapat tersebut dapat digabungkan dan saling melengkapi, karena ada persamaan dan perbedaannya, namun semuanya dapat dipakai sebagai alasan mengapa penelitian perlu menggunakan sampel.
1.    Penggunaan Populasi dalam penelitian bila :
a)    jumlah populasi yang akan diteliti terbatas dan sedikit
b)    luas daerah penelitian tidak terlalu luas dan mudah dijangkau
c)    waktu penelitian yang tersedia cukup lama
d)    dana yang tersedia cukup
e)    fasilitas penelitian cukup
f)    tersedia sarana penelitian yang cukup
g)    tersedia tenaga peneliti yang cukup terjaminnya keamanan dalam penelitian.
Meskipun banyak populasi yang anggotanya terbatas jumlahnya, seperti jumlah mobil di Jakarta, jumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, meskipun sebenarnya dapat dihitung tetapi karena sulit dilakukan maka dianggap tidak terbatas. Metode pengambilan data yang melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus.
Digunakannya sample dalam penelitian adalah untuk mereduksi obyek penelitian dan melakukan generalisasi hasil penelitian, sehingga dapat ditarik kesimpulan umum.
Generalisasi  dari sample ke populasi mengandung resiko kekeliruan atau ketidak tepatan, karena sample tidak akan dapat mencerminkan secara tepat keadaan populasi. Mengenai hal ini biasanya, seorang penyelidik sering terlalu berani menetapkan daerah generalisasi yang terlalu luas, padahal daerah tersebut belum tentu terwakili oleh sample yang ada. Oleh karena itu dalam menentukan sample, daerah generalisasi merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan, selain penegasan sifat-sifat populasi, sumber informasi tentang populasi, besar kecilnya sample dan teknik sampling.
Makin tidak sama sample itu dengan populasinya makin besar kemungkinan kekeliruan dalam generalisasi. Oleh karena itu teknik penentuan sample ( teknik sampling ) menjadi sangat penting peranannya dalam  penelitian. Berbagai teknik penentuan sample pada hakekatnya adalah cara-cara untuk memperkecil kekeliruan generalisasi dari sample ke populasi sehingga diperoleh sample yang representativ, yaitu sample yang benar-benar mencerminkan populasinya.
D.    Petunjuk Mengambil Sampel
Kesalahan dalam menentukan sampel akan mengakibatkan kesalahan fatal pula dalam menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu sangat perlu diketahui bagaimana cara mengambil sampel yang representatif. Menurut Winarno Surachmad “ Untuk mendapatkan sampel yang representatif perlu dipahami langkah-langkah umum berikut, (1) bagaimana penyelidik menetapkan sifat-sifat populasi, kemudian (2) menetapkan perhitungan statistik untuk pengolahan data sampel dan akhirnya (3)menetapkan teknik penarikan sampel. Selain itu Margono ( 1997 : 87 ), mengemukakan ada empat parameter yang biasa dianggap menentukan representativness, yaitu :

a). Variabilitas populasi
Dari keempat parameter tersebut, variabilitas populasi merupakan hal yang “given”, artinya peneliti harus menerima sebagaimana  adanya, tidak dapat mengatur atau memanipulasinya. Sedangkan keempat variable yang lain dapat diatur atau dimanipulasi oleh peneliti untuk mendapatkan sample yang representative.
b). Kecermatan untuk memasukkan ciri-ciri populasi
Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi ke dalam sampel menentukan  tingkat representativnya sample.
c). Besar- kecilnya sample
Semakin besar sample yang diambil untuk populasi yang heterogen maka semakin tinggi taraf representativnya sample. Untuk populasi yang homogen sempurna  sample cukup kecil saja.
d). Teknik penentuan sample
Teknik penentuan sampel ( teknik sampling ) adalah cara menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.

E.    Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sunber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Terdapat dua teknik sampling yaitu teknik random sampling dan teknik non random sampling.
Random sampling adalah pengambilan sampel secara acak. Dalam teknik random sampling , semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini sampai sekarang dipandang sebagai teknik yang paling baik. Untuk menentukan anggota sampel dalam random sampling dapat dilakukan dengan cara undian, ordinal, randomisasi dari tabel bilangan random.
Jenis-jenis sampel yang diperoleh dari teknik random sampling ( probabability sampling ) ada tiga, yaitu simpel random sampling, stratified random sampling dan cluster random sampling. Sedangkan jenis-jenis sampel nonrandom sampling ( non probability sampling ) adalah : sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling.
Penjelasan dari teknik-teknik sampling tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Probability sampling
a). Simple random sampling
Dikatakan simple ( sederhana ) karena cara pengambilan sample dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi. Mengenai simple random sampling mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terkecil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar.
b). Stratified Random Sampling
Dalam stratified random sampling dapat dipakai dua cara, yaitu proporsionate stratified random sampling dan disporpotionate random sampling.
( 1 ). Proportionate Stratified Random Sampling
Pada prosedur pengambilan sampel berstrata dengan proportional, banyaknya subyek dalam setiap subkelompok atau strata  harus diketahui perbandingannya lebih dahulu. Kemudian ditentukan presentase besarnya sampeldari keseluruhan populasi. Presentase atau proporsi ini lalu diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya.
( 2 ). Disproportionate Random Sampling
Prosedur ini biasanya dilakukan karena alasan statistik yang kadang-kadang analisisnya meminta jumlah subyek yang sama dari masing-masing kelompok. Dalam cara proporsional, penentuan sampel dilakukan tidak dengan mengambil proporsi yang sama bagi setiap sub kelompok atau strata akan tetapi dimaksudkan untuk mencapai jumlah tertentu dari masing-masing strata. Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. dan semakin besar jumlah sampel dalammasing-masing sub kelompok maka error pengambilan sampel akan semakin kecil.
c). Cluster Sampling ( Sampling Daerah )
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan suber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.
Misal di Indonesia ada 30 propinsi dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tatapi perlu diingat karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified  random sampling.
Teknik sampling daerah ini sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sample daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada di daerah itu secara random juga.

2.    Nonprobability sampling
a ). Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut 1 sampai dengan 100 orang. Pengambilan sample dapat  dilakukan dengan nomor ganjil  saja, atau genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan 5, maka yang dijadikan sample adalah anggota nomor 5,10,15,20,25 dan seterusnya.
b). Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sample dari populasi yang mempunyai cirri-ciri tertentu sampai jumlah ( kuota ) yang diinginkan. Sebagai contoh akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara  kelompok. Setelah sample ditentukan umpamanya 100 orang, dan jumlah anggota peneliti 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sample secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan ( Golongan II ) sebanyak 20 orang.
c) Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sample berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sample, bila dipandang orang tersebut cocok sebagai sumber data.
d). Purposive Sampling
Purposive sampling adalah teknik penentuan sample untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sample yang dipilih adalah orang yang ahli dalam kepegawaian saja.
e). Sampel Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sample. Istilah lain dari sample jenuh adalah sensus
f). Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sample yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudia sample ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sample. Begitu seterusnya sehingga jumlah sample semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama makin besar.
Walaupun berbagai teknik penentuan sample telah dikembangkan dan parameter-parameter untuk perkiraan telah diidentifikasikan, namun hampir tidak pernah peneliti dapat menentukan sample yang memcerminkan populasi secara sempurna. Hal ini terjadi terutama dalam lapangan ilmu-ilmu social dan kemanusiaan. Keadaan yang demikian  itu lalu menimbulkan kebutuhan untuk dapat memperhitungkan atau setidak-tidaknya memperkirakan besar- kecilnya kekeliruan. Dalam analisis kekeliruan ketika melakukan generalisasi dari sample ke populasi itu disebut kekeliruan baku atau galat baku ( standard error ). Dasar teoritis yang dipergunakan untuk memperkirakan kekeliruan baku itu ialah teori probabilitas. Sampel-sampel tunduk pada hukum probabilitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: