PERAN MANAJEMEN DALAM PROSES OPERASI PERUSAHAAN

Secara umum, proses manajemen operasi merupakan salah satu bagian dari proses internal perusahaan untuk menghasilkan dan mengantarkan barang atau memberikan layanan kepada pelanggan. Menurut Adam (1992), Heizer (2004), dan Stevenson (2005): Manajemen Operasi sebagai suatu sistem yang bertujuan menciptakan barang atau menyediakan jasa. Proses manajemen operasi ini dapat dikatakan sebagai salah satu komponen terpenting dalam pelaksanaan strategi perusahaan. Dimotori oleh perusahaan manufaktur Jepang yang mengadakan perbaikan dalam kualitas, desain, biaya produksi dan re-engineering, proses ini menjadi salah satu prioritas berbagai perusahaan saat ini terlepas dari apakah perusahaan menerapkan strategi operational excellence atau tidak.

Dalam prakteknya, proses manajemen operasi dapat dibagi ke dalam empat kategori yaitu: (a) Mengembangkan dan memelihara hubungan dengan para pemasok (supplier); (b) Memproduksi barang atau jasa; (c) Mendistribusikan dan mengantarkan barang atau jasa kepada pelanggan; (d) Mengelola risiko.

Sebagai ilustrasi untuk menggambarkan proses ini adalah sebagai berikut:

  1. Hubungan dengan Pemasok. Misalnya perusahaan retail (carefour, almamart,dll) sangat bergantung pada para pemasok mereka agar dapat menyediakan berbagai barang kebutuhan pelanggan secara cepat dan dengan kualitas yang terjamin. Bagi perusahaan, hubungan yang erat dengan para pemasok sama pentingnya dengan hubungan pelanggan sehingga jaringan para pemasok ini merupakan salah satu aset utama yang bisa memberikan keunggulan bagi perusahaan  dalam bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Untuk dapat membina hubungan pemasok yang efektif, maka perusahaan harus berusaha menekan berbagai biaya agar jumlah total biaya dalam memperoleh barang dapat seminimal mungkin. Aktivitas-aktivitas yang timbul berkaitan dengan perolehan barang antara lain: Pemesanan barang, Penerimaan barang, Inspeksi barang, Pengembalian barang yang cacat atau kedaluwarsa, Penyimpanan barang ,Pembayaran barang. Oleh karenanya, dalam memilih pemasok, perusahaan harus menyeleksi pemasok yang dapat menghasilkan total biaya perolehan barang terendah, bukan harga barang yang terendah. Untuk menurunkan biaya perolehan produk, perusahaan dapat mencari pemasok yang bisa menerima pesanan secara elektronik atau melalui internet. Bahkan pada produk tertentu, pelanggan dapat melakukan pesanan barang tersebut langsung kepada pemasok melalui internet yang tersedia di counter pemasok.
  2. Produksi Barang dan Jasa. Tahap ini merupakan inti daripada proses manajemen operasi. Berbagai kajian mengenai bagaimana memperbaiki kualitas produk, menurunkan cycle time dan biaya produksi telah dilakukan sejak lama. Berbagai perusahaan manufaktur telah pula menerapkan berbagai konsep seperti total quality management, business process redesign dan activity-based management berikut dengan indikator kinerjanya. Sebagai contoh, untuk mengukur perbaikan proses secara kontinyu, perusahaan Sharp Indonesia menerapkan tolok ukur part-per-million defect rate. Adapun berbagai tolok ukur kinerja yang sering digunakan antara lain: Cycle time (sejak mulainya produksi hingga barang jadi dihasilkan), Persentase utilisasi aset, Lama downtime, Inventory turnover, dan sebagainya.
  3. Distribusi Barang dan Jasa. Proses distribusi barang dan jasa kepada pelanggan pada dasarnya serupa dengan proses hubungan dengan pemasok. Maksudnya, perusahaan seharusnya mengukur total biaya yang terjadi dari tiap-tiap aktivitas dalam distribusi produk dan jasa kepada pelanggan. Misalnya, dalam proses ini tentunya terdapat aktivitas penyimpanan barang yang berdampak pada peningkatan biaya, lalu biaya transportasi kepada agen penyalur, pengecer (retailer) atau konsumen akhir. Maka perusahaan harus mempertimbangkan jalur distribusi yang biayanya paling efisien, tetapi tetap efektif dalam mencapai pasar sasaran. Selain itu, perusahaan harus bereaksi secara cepat terhadap permintaan pelanggan. Hal ini dapat diukur dengan lead time (lama waktu yang dibutuhkan sejak pesanan diterima hingga barang diterima pelanggan). Tolok ukur lain yang dapat digunakan adalah persentase pengantaran barang kepada konsumen yang tepat waktu.
  4. Mengelola Risiko. Risiko merupakan hal yang dihadapi oleh tiap perusahaan. Untuk perusahaan manufaktur, risiko operasional merupakan hal yang harus diperhitungkan. Pada perusahaan jasa keuangan, risiko biasanya merupakan hal yang serius karena dapat berasal dari berbagai sumber. Pada bank, misalnya, risiko dapat berupa risiko pasar yaitu dari fluktuasi kurs dan suku bunga, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik, dan risiko operasional. Menyadari banyaknya jenis risiko yang dihadapi, maka perusahaan harus mempunyai metode untuk mengelola risiko tersebut.
  5. JANGAN LUPA MAMPIR DISINI, KALO MAU ANE KASIH UANG

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: